Kepompong
Saya baru saja membaca ulang email forward dari seorang rekan yang bercerita mengenai seorang anak yang membantu mempercepat proses keluarnya kupu-kupu dari kepompongnya. Alasan yang utama adalah karena dia melihat betapa setengah matinya kupu-kupu itu bergumul untuk bisa keluar dari kepompong.
Hanya saja niat baiknya yg merobek lapisan kepompong dengan tujuan untuk mempermudah sang kupu-kupu keluar, malah berbuah celaka bagi kupu-kupu tersebut, karena kupu kupu muda itu gagal mengembangkan sayap dan otot-ototnya secara sempurna melalui proses yang sulit itu yang akhirnya membuat dia tidak bisa beradaptasi didunia luar dan membuat dia akhirnya jatuh dan mati.
Ini sedikit banyak juga menjelaskan fenomena pe-mula-pemula bisnis yang enggan sekali untuk me-rintis sesuatunya dari benar-benar bawah yang se-ringkali menurut mereka hampir “tidak ada uangnya” tapi penuh dengan kerja keras, korban perasaan dan air mata.
Mereka berusaha cari jalan-jalan yang mereka anggap ‘pintar” untuk mulai berbisnis.
Beberapa pebisnis memulai dengan meminjam uang mertua, menjaminkan rumahnya ke bank atau cara cara lain yang dianggap pintar tersebut utk memulai bisnis pertamanya. Sementara pada saat yang sama, sebetulnya mereka belum mengembangkan otot-otot dan sayap-sayap bisnis yang mewakili akan penguasaan pengetahuan bisnis secara utuh dan jam terbang. Beberapa pe-bisnis yang dianugrahi kemampuan spesial memang bisa beradaptasi dengan baik, tapi kebanyakan orang biasanya gagal sebagaiman yang dicita-citakan dari mula.
Nanti sesudah gagal, baru sebetulnya mulai mendapatkan gambaran yang utuh dalam berbinis, hanya saja sayangnya sudah terlambat, harta sudah terlanjur habis.
Rekomendasi saya adalah usahakan untuk belajar bisnis dengan modal sekecil kecilnya, kalau bisa tanpa modal, misalnya dengan membantu teman terlebih dahulu dengan tulus dan sungguh-sungguh.
Karena walau kita mungkin dapat uangnya tidak ba-nyak, tapi saat yang sama otot dan sayap bisnis kita sedang ditumbuhkan.
TUHAN MEMBERKATI SETIAP PEJUANG YANG BERTEKUN
|
|
Oleh ; (wishnu iriyanto) Majalah JAKARTA, Edisi 1 halaman 18 |
<div class="mybox01">
<p><span style="color: #800000;"><strong><span style="font-size: 14pt;">Kepompong</span></strong></span></p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Saya baru saja membaca ulang email forward dari seorang rekan yang bercerita mengenai seorang anak yang membantu mempercepat proses keluarnya kupu-kupu dari kepompongnya. Alasan yang utama adalah karena dia melihat betapa setengah matinya kupu-kupu itu bergumul untuk bisa keluar dari kepompong. <br /><br />Hanya saja niat baiknya yg merobek lapisan kepompong dengan tujuan untuk mempermudah sang kupu-kupu keluar, malah berbuah celaka bagi kupu-kupu tersebut, karena kupu kupu muda itu gagal mengembangkan sayap dan otot-ototnya secara sempurna melalui proses yang sulit itu yang akhirnya membuat dia tidak bisa beradaptasi didunia luar dan membuat dia akhirnya jatuh dan mati.<br /><br />Ini sedikit banyak juga menjelaskan fenomena pe-mula-pemula bisnis yang enggan sekali untuk me-rintis sesuatunya dari benar-benar bawah yang se-ringkali menurut mereka hampir “tidak ada uangnya” tapi penuh dengan kerja keras, korban perasaan dan air mata.<br /><br />Mereka berusaha cari jalan-jalan yang mereka anggap ‘pintar” untuk mulai berbisnis.<br /><br />Beberapa pebisnis memulai dengan meminjam uang mertua, menjaminkan rumahnya ke bank atau cara cara lain yang dianggap pintar tersebut utk memulai bisnis pertamanya. Sementara pada saat yang sama, sebetulnya mereka belum mengembangkan otot-otot dan sayap-sayap bisnis yang mewakili akan penguasaan pengetahuan bisnis secara utuh dan jam terbang. Beberapa pe-bisnis yang dianugrahi kemampuan spesial memang bisa beradaptasi dengan baik, tapi kebanyakan orang biasanya gagal sebagaiman yang dicita-citakan dari mula. <br /><br />Nanti sesudah gagal, baru sebetulnya mulai mendapatkan gambaran yang utuh dalam berbinis, hanya saja sayangnya sudah terlambat, harta sudah terlanjur habis.<br /><br />Rekomendasi saya adalah usahakan untuk belajar bisnis dengan modal sekecil kecilnya, kalau bisa tanpa modal, misalnya dengan membantu teman terlebih dahulu dengan tulus dan sungguh-sungguh.<br /><br />Karena walau kita mungkin dapat uangnya tidak ba-nyak, tapi saat yang sama otot dan sayap bisnis kita sedang ditumbuhkan.<br /><br /><strong>TUHAN MEMBERKATI SETIAP PEJUANG YANG BERTEKUN</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tr>
<td><div align="right"><span style="text-align: justify;"><img style="border: 2px solid #000000; margin: 0px 0px 20px; float: right;" alt="wishnu_iriyanto" src="/images/stories/artikel_bisnis/wishnu_iriyanto.jpg" width="73" height="95" /></span></div></td>
</tr>
<tr>
<td>Oleh ; (wishnu iriyanto)</td>
</tr>
<tr>
<td>Majalah JAKARTA, Edisi 1 halaman 18</td>
</tr>
</table>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<div style="text-align: right;"></div>
<p style="text-align: right;"> </p>
<div style="text-align: right;"></div>
<p style="text-align: right;"> </p>
<p style="text-align: right;"></p>
<div style="text-align: right;"><span>Oleh ; (wishnu iriyanto)</span></div>
<p style="text-align: right;"><span>Majalah JAKARTA, Edisi 1 halaman 18 </span></p>
</div>