Print PDF

Bersikap keras terhadap diri sendiri

Saya kira hampir semua orangtua (yang sudah memiliki anak) pasti memiliki masalah yang rada mirip dengan masalah yang saya hadapi.

Yaitu disatu sisi ingin mendidik anak-anak dengan disiplin tinggi, cara-cara keras dan menerapkan volume belajar dalam jumlah banyak agar mereka kelak bisa mengembangkan ketabahan, sikap ulet, punya daya juang, cakap dalam apapun yang mereka kerjakan, mampu bersaing dengan orang lain dan pada akhirnya berhasil mencapai apapun yang mereka cita-citakan.

Tapi disisi lain punya perasaan nggak tega melihat mereka menangis, menjerit, kelihatan tertekan, serta terlihat menderita.

Ini sebetulnya sesuatu yang saya sudah petakan sejak jauh-jauh hari, bahkan sebelum menikah sekalipun, tetapi pada saat waktunya datang, perasaan nggak tega itu muncul begitu kuat dan menghalangi saya untuk secara efektif melaksanakan apa yang saya rencanakan sejak jauh-jauh hari itu.

Tetapi pada saat acara doa malam di rumah pendeta Jonathan pattiasina dan meminjam ungkapan yang saat itu merupakan bagian dari renungan singkatnya, saya mendapat satu kekuatan baru. Kutipannya berbunyi demikian;

Mereka yang keras terhadap dirinya, akan mendapati dunia akan lunak terhadap mereka, tetapi mereka yang lunak terhadap dirinya akan mendapati dunia berubah jadi keras terhadap dirinya.

Saya sepenuhnya mengamini statement diatas dan untuk saya, statement diatas jadi satu pewahyuan tersendiri.

Saya teringat cerita jaman raja-raja mongol dahulu kala.

Mereka juga punya perasaan yang sama, yaitu disatu sisi mereka ingin anak-anak mereka belajar keras dan mengalami semua kesulitan serta kerasnya hidup sehingga bisa tumbuh sebagai seorang yang tangguh, matang dan sempurna aspek kepemimpinan, tapi disisi lain mereka juga khawatir perasaan mereka akan tidak bisa objektif 100% dalam mendidik anak anak mereka sendiri.

Maka solusinya adalah sederhana. Sesama raja / kepala suku mongol, pada saat anak anak mereka berumur akil baliq, mereka bertukar anak selama beberapa tahun. Raja / kepala suku yang satu akan mendidik anak dari temannya dan temannya akan melakukan hal yang persis sama. Dan mereka berkomitmen mendidik anak-anak teman mereka seperti la-yaknya mereka mendidik prajurit mereka sendiri.

Tidak ada keistimewaan dan tidak ada perlakuan khusus, yang ada hanya komitment menjadikan anak-anak temannya sebagai pejuang sejati padang rumput. Dan karena system regenerasi yang begitu keras, bangsa mongol yang secara jumlah, literatur dan kebudayaan jauh dibawah bangsa china, pernah menguasai china sampai ke asia tengah bahkan menjangkau ke pinggiran eropa mo-dern.

Tulisan ini sebetulnya bukan cuma bi-cara hanya sekedar pelatihannya anak-anak semata, tetapi termasuk diri kita sendiri juga.

Kalau kita manja dalam kehidupan ini, jangan heran kalau suatu saat kita menemukan dunia tidak lagi seme- nyenangkan seperti yang kita duga bertahun tahun lampau, tetapi kalau kita bisa disiplinkan diri kita untuk bisa jadi seorang pejuang kehidupan, kita akan terkejut akan betapa mudahnya menikmati kehidupan ini.

Semoga berguna

wishnu_iriyanto

Oleh ; (wishnu iriyanto)

Majalah MASA DEPAN, Edisi 1 halaman 28

You are here:  

Sedikit dari ribuan kisah sukses kursus IELTS dan TOEFL kami

Novie Anita Wurarah (Kelapa Gading)
Easy download music file for free at Free Song Downloads
Hera Wati (Kebon Jeruk)
Easy download music file for free at Free Song Downloads
Claudia Gunadi (Kelapa Gading)
Easy download music file for free at Free Song Downloads
Donalthy Ch. Kaligis (Kelapa Gading)
Easy download music file for free at Free Song Downloads
Clara Carolina (Kelapa Gading)
Easy download music file for free at Free Song Downloads
Jeffry Christian (Muara Karang)
Easy download music file for free at Free Song Downloads
Wishnu Iriyanto (Kelapa Gading)
Easy download music file for free at Free Song Downloads