- Loading...
Hatiku Telah Mencapai Gunung Terlebih Dahulu
Seorang pengembara tua sedang dalam perjalanan menuju pegunungan Himalaya pada musim dingin yang menggigit saat mulai hujan. Seorang pengurus rumah penginapan berkata kepadanya. “Bagaimana engkau dapat sampai disana dalam cuaca se-perti ini, saudara?”
Pengembara tua itu menjawab dengan gembira: “Hatiku sudah lebih dulu sampai disana, sehingga mudah bagi saya yang tersisa ini kemudian mengikutinya.”
Doa sang katak 1 oleh Anthony de Mello SJ
Apakah ada yang pernah terpikir, kenapa ada orang yang bisa tabah dalam menghadapi satu perjuangan hebat dan ada yang tidak ? Jawaban yang gampang adalah karena seseorang memang terlatih untuk tabah dan ada orang lain yang tidak terlatih untuk tabah. Tapi sebetulnya, melalui cerita diatas, ada pendekatan lain dalam melihat permasalahan tabah atau tidak tabah. Dan menurut saya, hal ini di bagi ke dalam 3 tingkatan…
Tingkatan 1
Hanya sekedar MENGINGINKAN.
Menurut saya, ini adalah tingkatan yang terendah. Memang benar, menginginkan / keinginan adalah alasan penting yang menggerakkan seseorang dalam melakukan sesuatu, karena siapapun sulit untuk masuk kedalam satu masa perjuangan sulit untuk meraih sesuatu, yang terjadi dalam waktu yang cukup lama tanpa kita benar-benar menginginkannya.
Tanpa KEINGINAN, saya ragukan ada orang-orang yang sanggup menempuh 1 minggu perjuangan hebat tanpa me-nyerah.
Contoh; Setiap orang tanpa terkecuali pasti ingin SUKSES.
Hanya saja kenyataannya, walau diberi kesempatan untuk meraih sukses dalam sebuah peluang usaha misalnya, tidak semua orang akan bisa tabah hadapi prosesnya yang panjang dan berat, padahal siapapun tahu kalau semua proses berat tersebut memanglah merupakan proses alami yang harus dilalui setiap orang yang ingin dan telah sukses.
Jadi, menurut saya, sekedar MENGINGINKAN saja tidak cukup, karena di satu titik, begitu tekanannya menghebat, dan situasi menjadi lebih sukar lagi, dia membutuhkan tingkatan ke dua untuk bisa bertahan lebih lama yaitu:
Tingkatan 2
MEMIMPIKANNYA
Seseorang yang sudah memimpikan sesuatu untuk jangka waktu lama, cenderung lebih tabah dalam menghadapi proses sulit dibanding yang tidak. MENGINGINKAN ditambah lagi unsur MEMIMPIKAN dalam jangka waktu yang lama, adalah kombinasi yang luar biasa bagus. Karena ke dua elemen tersebut bisa bersinergi dan menghasilkan ketabahan yang luar biasa, suatu ketabahan yang bahkan melampaui ketabahan yang didapat dari sekedar latihan TABAH semata yang sudah didisiplinkan sejak masih kecil.
Misalnya; ada seseorang yang sejak kecil sampai dewasa hidupnya susah secara ekonomi, dan semenjak kecil, dia sungguh-sungguh memimpikan untuk bisa merubah secara drastis nasibnya dan nasib keturunannya.
Nah, begitu ada peluang untuk bisa sukses, orang jenis ini ( yang ada di level MEMIMPIKAN & MENGINGINKAN), cenderung akan bekerja lebih giat, mampu tabah dalam setiap rupa-rupa kesulitan yang berjangka waktu lama, dan menolak untuk menyerah dalam tekanan di titiknya yang paling ekstrem sekalipun. Tapi begitu usahanya kelihatan mustahil untuk direalisasikan, orang jenis ini masih bisa terjebak dalam pemikiran yang dianggapnya “rasional”.
Kalau dalam pandangannya, ketika sebuah usaha pada akhirnya menunjukkan jalan buntu, dia bisa juga memutuskan untuk menyerah, bukan karena dia ti-dak cukup tabah atau tidak bermental pejuang, tetapi sepenuhnya karena alasan rasional yaitu lebih baik mencoba / menunggu sesuatu yang baru yang kelihatan lebih ada prospek dibanding meneruskan sesuatu yang lama yang sudah terlihat jalan buntunya dan “menurutnya” dipastikan tanpa harapan.
Nah, orang jenis ke 3, adalah type yang sempurna, seorang yang tidak mungkin menyerah walau jalan terlihat buntu dimana-mana. Yaitu tipe;
Tingkatan 3
Orang yang HATI nya sudah sampai.
Seseorang yang sudah pada level ter-tinggi ini, seperti orang yang bisa melihat masa depan, seperti orang yang tahu persis apa yang akan dicapainya dalam masa depan.
Dalam contoh sukses, ini adalah orang yang penglihatannya bisa melampaui ruang dan waktu, bahwa dia sudah mendapatkan sukses yang dia inginkan dan mimpikan, walau dalam kenya-taan real itu sebetulnya belum terjadi. Dan untuk dia, semua penglihatannya adalah nyata.
Jadi kalau dia mengerjakan sesuatu, itu bukan lagi karena dia berharap akan berhasil, tetapi karena dia SUDAH TAHU kalau dia akan berhasil.
Berharap dan SUDAH TAHU adalah 2 perbedaan besar.
Orang jenis ini, pada saat mengerjakan sesuatu, ketika semua jalan terlihat buntu, dan semua pintu terlihat tertutup dia nggak akan menyerah, karena dia percaya itulah saat TUHAN sedang membukakan jendela-jendela.
Pikiran untuk menyerah yang oleh orang umum anggap sebagai pikiran rasional karena dimata semua orang pintu-pintu harapan dan jalan-jalan kesuksesan kelihatan tertutup, bagi dia adalah kebodohan.
Bukan karena dia bodoh, tetapi justru karena dia telah dan mampu melihat melampaui ruang dan waktu, sebuah sukses besar yang pasti diraihnya, dan bahkan telah mendaratkan HATI-nya kesana.
Dan sejarah membuktikan, bahwa orang-orang di level ini, yang dalam term rohani disebut pejuang-pejuang iman (sesuatu yang belum terjadi tetapi dipercaya akan terjadi = IMAN), mampu meraih apapun yang mereka telah imani dengan sungguh-sungguh dan selalu membuat orang-orang umum terce-ngang-cengang oleh IMAN & PENCAPAIAN mereka.
Doa saya, siapapun yang membaca artikel ini, mampu bertransformasi tidak sekedar menjadi pejuang keinginan semata, atau pejuang keinginan dan mimpi tetapi bertransformasi jadi lebih jauh lagi, yaitu PEJUANG IMAN.
Semoga berguna.
Majalah MASA DEPAN, Edisi 1 halaman 17
Pencari Kebenaran Yang Sungguh-Sungguh Ketika Raja mengunjungi pertapaan pertapaan guru Agung Zen
moreHatiku Telah Mencapai Gunung Terlebih Dahulu Seorang pengembara tua sedang dalam perjalanan menuj
moreSedikit dari ribuan kisah sukses kursus IELTS dan TOEFL kami